Di Puncak Gunung

di kaki gunung

Udara gunung yang segar rasa sarat bila dihela. Sebentar nanti Nenek Kebayan akan menjelma lagi. Katanya, dia akan sampaikan syarat-syarat yang akan ditetapkan oleh sang puteri gunung. Aku dan mereka yang lain menunggu dengan sabar.

Tidak lama selepas itu muncullah Nenek Kebayan dari celah banir pokok besar itu…

Nenek Kebayan : He he he ……

Boleh tahan juga seringai wajah Nenek Kebayan itu. Walaupun pakaiannya compang-camping, bau harum kurasakan menusuk segenap jengkal dan depa belantara itu. Satu perasaan aneh menyelinap ke seluruh tubuhku.  Satu perasaan seolah aku sedang berdepan dengan seorang wanita cantik penuh berahi… bukannya nenek kebayan yang kerepot yang sudah putus penyakit bulannya.

Aku     : Err… Sudahkah Nenek dapat sebarang    pesan dari Tuan   Puteri ?

Nenek Kebayan : Ehem ….. cucu. Ehemm …. (dia cakap dengan suara terteran-teran sebijik macam Nasir Bilal Khan dalam semua lakonannya, demikian pendapat anak saudaraku Laula, 8 tahun)

Aku menunggu dengan sabar apa yang akan diperkatakan oleh Nenek Kebayan seterusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s